Seberapa Besar Nilaimu di hadapan Pelanggan?

Setiap kali membahas soal kualitas seorang salesman saya selalu teringat satu kalimat yang pernah terlontar dari mantan GM Sales saya beberapa tahun yang lalu ketika saya masih jadi salesman yang keliling-keliling Tanjung Priok, Sunter ,Kota dst, perkataan beliau adalah ” Kalo lu mau jualan murah anak SD juga bisa jualan, pake celana merah aja Lu sana”… Hehehe… sebuah statement yang sangat menyebalkan dari seorang Bos dikala itu, yang mana Statement itu selalu muncul tiap kali kita complain harga kita kemahalan.

Namun Anehnya… beberapa tahun kemudian Statement yang sama justru secara tidak sengaja juga muncul dari mulut saya kepada team Sales saya sendiri walaupun tidak sekasar pernyataan Bos saya beberapa tahun lalu itu, walau kadang suka merasa lucu sendiri…, tapi inilah realitanya, yang di kemudian hari saya sadari bahwa ternyata betapa lebih pentingnya “Siapa yang menjual daripada apa yang dijual”

Untuk anda yang sudah malang melintang di dunia “Persalesan”, terutama buat semua teman2 yang sudah sempat memiliki predikat Sales terbaik, atau Best Seller, atau sudah mampu memiliki karir yg baik di pekerjaan Salesnya pernahkah sejenak saja kita merenungkan keberhasilan-keberhasilan kita mendapatkan closing itu muncul dari mana? apakah karena faktor Luck semata?, Hoki?, barang kita yang memang Murmer gampang di jual?, banyak di bantu atasan kita?, ataukah juga memang kita benar-benar punya Value khusus dimata pelanggan kita?

Dan khusus untuk poin terakhir tadi, Value kita (sebagai Pribadi) dimata pelanggan, pernahkah sejenak kita mengukur secara jujur sudah seberapakah nilai kita sesungguhnya di mata para pelanggan kita?

Seringkali kita menjadi “Missleading” atau salah mengartikan, kita merasa bahwa kita sudah cukup hebat bisa menjual lebih baik daripada kompetitor padahal memang barang kita sudah cukup branded, murah dan sangat di kenal di banding kompetitor, namun ketika si pelanggan ada acara keluarga justru si X dari merek Ecek-ecek yang di undang kerumah pelanggan tersebut.

Atau mungkin kita di kantor cukup Jumawa untuk bisa capai target penjualan yang besar karena memang kita kebetulan menghandle wilayah yang memang gemuk dan pertumbuhannya juga sangat cepat. padahal ketika kita di rotasi ke wilayah yang lain maka belum tentu kita bisa sebaik di wilayah sebelumnya.

Begitu juga ketika kita melakukan Closing Sales dengan seorang Buyer, yang dengan cepatnya closing karna kita langsung potong harga nett-nett habis dan yakin kita yang termurah di banding dengan kompetitor, bandingkan dengan orang sales lain yang berhasil closing dengan pelanggannya dengan harga yang mahal, namun berhasil meyakinkan pelanggannya bahwa harga yang mahal tersebut sebanding dengan kualitas yang ditawarkan. menjadi Sales yang manakah yang anda pilih? yang pertama atau yang kedua?

Beberapa orang mungkin akan berargumen, hmm… pikirin amat mau closing dengan cara apa, mau dekatkah? atau tidakkah dengan pelanggan, mau kita jual mahal atau murah, mau merk terkenal atau tidak, yang penting closing sales, capai target, terima bonus, urusan selesai.

Semoga Anda bukanlah orang yang berfikiran seperti yang baru saja saya sebutkan diatas, karna jika Iya maka saya mau ucapkan Selamat.  karena Anda baru saja menjadi Sales yang masih banyak belajar dan perlu banyak belajar hehehe…..

Seorang Salespeople sejatinya harus memandang bahwa Pelanggan merupakan Asset, kenapa Asset?  karena tidak ada yang menjamin 100% anda akan terus menerus bekerja di perusahaan Anda sekarang, Anda Mungkin Loyal tapi siapa yang menjamin Perusahaan pun akan Loyal kepada Anda, so.., jika saat ini Anda bekerja di Perusahaan yang barangnya mudah di jual atau gampang laku… pastikan bahwa Pelanggan membeli produk Anda bukan hanya karena Produknya, tetapi karena Anda yang menawarkannya, yup, sekali lagi karna Anda yang menawarkannya.

Pelanggan adalah Asset yang harus dijaga, karena ketika suatu saat Anda berniat untuk memulai usaha sendiri, siapakah yang akan pertama-tama membantu Anda selain jaringan network pelanggan Anda?, begitu juga misalnya ketika kita pindah ke Perusahaan lain, maka jaringan pelanggan kita jugalah biasanya pertama kali akan lebih membantu kita juga di pasar.

Untuk itu…, mulai saat ini mari kita sama-sama instropeksi, kiranya sudah seberapa besar nilai kita di mata para pelanggan kita, karena besaran nilai itulah juga yang menjadi takaran Nilai “Asset Pelanggan” kita sesungguhnya, semakin besar nilainya maka semakin besar juga Asset yang kita miliki. Dan sekali lagi saya ingatkan, pastikan Bahwa Pelanggan membeli produk kita bukan hanya karna harga, kualitas, dan hal2 lainnya dari Produk kita, namun pastikan juga bahwa pelanggan membeli produk kita karna kita yang membawanya dan menawarkannya kepada pelanggan kita.

Sudahkah Anda berfikir seperti itu?…..